Minggu, 07 Oktober 2012

Mangsa Kapat

-->



Mangsa kapat ,Julung pujut  penanggalan jawa yang ke 7 Dulkangidah ,tepat di hari Minggu Kliwon tahun  1945 jawa, atau 23 September 2012..

Angin berhembus keras melewati kisi-kisi daun jendela, sepertinya kemarau  akan segera berakhir,mungkin juga sebentar lagi akan hujan.Pohon-pohon randu berbuah lebat setelah sebulan lalu daunannya meranggas. Buahnya nya bergantungan ditiup angin kering,membuat kulitnya yang semula hijau menghitam kecoklatan. Melegam gemeretak pecah membuat kapuk putih didalammya berhamburan tertiup angin, ehm akhir kemarau...awalan musim hujan...mungkin? di jaman yang tidak pasti ini musimpun tidak bisa ditebak kemana larinya...."waspa kumembeng jroning kalbu " candraning mangsa untuk bulan ini dalam penanggalan Jawa saya. Saatnya langit mulai berkaca-kaca. awan mendung mulai datang menyelimuti langit. Sudah mulai turun hujan. Kemarau panjang kering menguningkan segala tanaman,tanah subur di sawah merekah menanti sang hujan menyirami relung relung yang merekah keras!  Angin berhembus keras melewati kisi-kisi jendela....
Seperti hari hari yang selalu kami lalui, setiap malam sehabis bekerja berkumpul bersama,untuk makan. Berteman televisi crt 14" inch, bertanya jawab apa yang terjadi seharian tadi. Dan tanpa meja makan, lauk terhidang, duduk bersama beralas tikar eva hijaunya pudar. Riuh piuh makanpun dimulai dengan doa Rahman,Yuma...

******************************************

Sudah lama saya ingin menulis , tetapi tertunda karena pikiran-pikiran  yang semrawut,berpola abstrak. seputar periuk nasi njomplang(jatuh ), anak sakit, piti (biaya) dan piti persoalan khas fakir miskin.  Ha ha ha  persoalan khas fakir miskin? Persoalan memalukan tersebut disebut sebagai biangnya kekafiran. Proses pengkafiran masal internasional oleh kapitalisme barat. bagaimana tidak ? Bangsa ini  sejatinya adalah bangsa yang hidup dengan berakar dari buminya. Tanah yang subur,luas, diapit samudra, gunung-gunung berapi bertebaran, berjuta-juta kekayaan alam yang melimpah. Tongkat ditancapkan tumbuh lebat jadi pohon.Jaring ditebar ikan dan udang akan kau dapati....bangsa ini dipaksakan menjadi buruh. Petani,nelayan anak turunnya pola hidup cara berfikir di moderenkan dijadikan sebagai tenaga kerja paberik. Doktrinisasi masal,proses pengkafiran pemikiran gaya hidup makin menjadi-jadi. Faham marheinisme tersingkir menjadi faham liberalisme kapitalisme, Siapa punya modal dialah pemilik dunia. Egoisme tumbuh solidaritas kemasyrakat tumbang. dan tumbuhlah agama kebendaan, kembalilah ke jaman  kegelapan,Agama penyembah berhala di anut, Latta wal uzwa hidup lagi....tidak secara fisik tetapi secara idiologis dan  menjadi dogma dalam setiap langkah hidup manusia moderen, manusia industri...., Sawah ladang nan luas disulap jadi belantara industri. Pohonan hutan lebat serakah dirambah. Bumi diperkosa dihirup diambil untuk dijual. Kalaulah bisa berteriak dia akan berteriak keras "Kowe ki pancen ASU (baca : tidak baik )!"  Sekarang yang paling hebat adalah proses arabisasi Indonesia.  Proses arabisasi yang saya maksud adalah proses unfertilisasi tanah subur indonesia, dengan menggunakan kelapa sawit. Pohon kelapa sawit adalah pohon jahat ia menyedot unsur hara,unsur kesuburan tanah, Apa yang terjadi jikalau tanah  sudah tidak subur lagi? Menjadi sahara ,padang pasir,seperti di negara arab sana. Inilah yang saya maksud dengan arabisasi alam indonesia. 

 Westernisasi  dan  arabisasi . Kedua nya menggempur habis-habisan  alam, ideologi  dan budaya indonesia. Peta pemikiran,ideologi  orang Indonesia makin terpetak-petak.Tersebut lah jargon ,tertulis jelas di pita yang dicengkeram garuda pancasila "Bhineka Tunggal Ika ".Kalimat yang di sunting dari kitab sutasoma tersebut berarti : Berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Saat ini kalimat itu hanya tinggal jargon pengisi rasa nasionalisme semu. Apalagi setelah dihembuskan  otonomi daerah dan negara serikat oleh Amien Rais. Rasa nasionalisme makin bertumbangan. bagaikan sapu lidi berserakan...Bukankah keinginan kita adalah menjadi lebih baik? tapi lihat lah sekarang. Era serba otononomi. Tidaklah menjadi semakin murah terjangkaunya kebutuhan hidup, pendidikan kesehatan ,malah makin mahal!  Amien Rais sang  tokoh reformis megadopsikan paham liberalisme. Beliau behasil...semua yang ada diindonesia go internasional, pendidikan standar Internasional. Bahasa sekolah menggunakan bahasa internasional. Dan jangan kaget kalau harganya juga standar internasional. MAHAL Cak!
Disinilah Teori Darwin, berperan siapa yang kuat dialah yang survive....bahasa kasarnya "ASU GEDHE SERO NJEGOKKE!"
Anjing besar keras gonggongannya. Yang miskin jelas makin miskin, inilah proses pengfakir-miskinan  genetik!  Yang miskin tentunya tak  bisa sekolah tinggi-tinggi karena faktor biaya. 

Pernah dengar lagunya Susan,Ria Ernes orang Surabaya,"Susan,Susan, Susan...besok gede mau jadi apa ?...Aku mau pinter ,besok gede biar jadi  dokter..." itu hanya berlaku dulu di eranya Pak Karno dan awal pemerintahannya Pak Harto..banyak orang pinter dari kalangan kelas teri bisa sekolah tinggi. SEKARANG ? HARI INI ? PINTER BUKAN JAMINAN ,Hanya orang kaya yang bisa jadi dokter, atau setidaknya anak-anak para koruptor.
 Dan lagunya  Ria Ernes sekarang sudah ganti menjadi : "SUSAH,SUSAH,SUSAH...BESOK GEDE MAU JADI APA?...."(sambil memaki-maki...hahaha)

 Padi menguning siap dipanen, bulirnya bergantungan melambai-lambai menunggu  ani-ani  (alat potong padi tradisional berbentuk seperti kerokan pemotong jenggot) memotong batangnya. Para gadis ,wanita bersukaria sambil berdendang lagu yang mereka bisa,memetik kemudian di masukkan kedalam te'nggok (keranjang yang terbuat dari anyaman bambu ) . Dirumah si empunya sawah tergelar tikar anyaman bambu. Sudah disiapkan untuk iles-iles. Iles-iles adalah cara yang dilakukan para petani tradisional untuk memisahkan  bulir-bulir padi dari batangnya.  Caranya dengan menginjak padi tersebut dengan kaki. Dan disinilah saya bisa melihat bagaimana seorang wanita jawa mengekpresikan diri setengah menari sambil menginjak nginjak batang padi. Suara batangan padi beradu alas tikar bambu,ber ritme teratur bersahutan dengan pebincangan hidup sehari-hari ahh sungguh dinamis sekali ...Saya sangat merindukan suasana itu euforia panen padi, jenang brendul (bubur merah yang terbuat dari tepung beras,didalamnya terdapat butiran bulat kecil yang seperti bakso inilah yang disebut brendul, berasa manis, manis gula jawa, biasanya ditemani dengan bubur putih,disebut bubur mega ),jenang ini dijual dan mata uang tidak digunakan, alat bayarnya adalah gabah dengan ukuran genggaman tangan, biasanya si pembeli membiarkan  dengan sukarela si penjual jenang mengambil beberapa genggam gabah dari senik atau te'nggok kecil upah dari pemilik sawah. Nah inilah semangat kemandirian,kebersamaan yang bisa ditangkap oleh Ir.Soekarno, hingga tercetuslah marheinisme.

Dari potret panen diatas bisa dilihat kebersamaan dalam menikmati berkah, yang punya sawah bisa panen zonder (tanpa) mengeluarkan uang untuk tenaga kerjanya, Tetangga yang tak empunya sawah  bergembira karena juga bisa menikmati berkah panen sawah tetangga, semua bergembira. Dan HEBATNYA tak ada uang yang bergulir disini....si miskin berjaya, semua memperoleh surganya.

MUNGKIN jika negara indonesia mempunyai filsafah euforia panen padi tadi, negeri ini tidak akan disetir oleh negara lain. Kita selalu ingin tampak hebat dimata negara lain tapi keropos didalamnya..Saya lupa, ditahun berapa indonesia memutuskan untuk masuk pasar bebas. Padahal waktu tersebut indonesia belum siap, tapi demi cari muka  indonesia masuk saja. Padahal negara besar seperti Republik Rakyat Cina, menolak untuk masuk  karena merasa belum siap......terbuktilah penundaan masuknya cina menjadikan cina sebagai macan ekonomi Asia.....sedangkan indonesia  yang waktu itu sempat menduduki  peringkat macan asia sekarang sudah mengkeret (mengecil)  jadi kucing asia...setidaknya itulah yang disindirkan salah satu tokoh dinegeri seberang Mahatir atau Lie kuan yu...(saya lupa namanya).
Seorang teman ,penulis buku "Gadis Gurun" dan "Medula sinculasis" pernah bercerita ,apabila negeri ini mau berkaca pada negara Oman. tentu kita kan lebih jaya lagi. Oman adalah negara kecil yang luasnya se pulau Jawa. Seluruh wilayahnya dikelilingi gurun, hanya mengandalkan penghasilan penjualan  minyak ,mentah dengan kuota hampir sama dengan Indonesia. Dan oman tidak mengikuti OPEC. Pengaturan pembagian yang jelas dari penjualan minyak mentah dunia mengantarkan kesejateraaan pada seluruh rakyatnya. sebagai misal sekolah gratis,ada  tunjangan hidup untuk warga negaranya, harga premium sekelas pertamax disana cuman 4000 an,  yang  di indonesia harganya dua kali lipatnya lebih, gaji polisi per bulan 400 juta,harga mobil sekelas lexus yang di Indonesia milyaran di sana cuman jutaan....apa yang bisa membuat itu terlaksana?  Good Governent tinggi, tingkat korupsi rendah. Oman  menempati peringkat ke 41  dunia.  bandingkan dengan Indonesia  yang menduduki peringkat 126,   masih unggul Vietnam  dan Nigeria di peringkat 121.(versi survei www.transparency.org dan www.icgg.org )
Dalam  sebuah diskusi yang hangat hingga subuh hari beberapa waktu lalu, ada pertanyaan "ketika semuanya sudah korup,rusak, bejat, bagaimana kita bisa merubah negeri ini ?"
 jawabnya : mulailah berubah dari diri sendiri, gaya hidup,mengubah dogma-dogma yang sudah ada, apa yang sudah di doktrinkan mari ditelaah. Seperti itukah kita?  
jaman ini mengarahkan kita menjadi  kaum  latta wal uzzwa di mana material menjadi Tuhannya manusia.Tanpa sadar kita menyembah berhala-berhala itu. Materialisme yang membabibuta!
 Saatnya pula menjadi kafir,terhadap ajaran materialisme yang membabibuta. walaupun kafir tetaplah syukur terhadap apa yang dibagikan Tuhan, jangan menjadi KAFIR KUFUR, jadilah KAFIR SYUKUR.Jangan terjebak ,terkotak-kotak pada jargon,istilah -istilah difinisi manusia. Berubah dari diri sendiri...kembali kealam budaya sendiri.....
Jangan mengharap perubahan dari pemerintah, Pemerintahan sudah super sibuk ngatur diri sendiri, Sibuk dengan proyek pencitraan diri,menampilkan muka-muka yang manis depan rakyatnya apalagi sekarang sudah mendekati pemilu,saatnya meraka sibuk menyusun strategi untuk memenangkan koalisi menjadi penguasa-penguasa bumi ibu pertiwi lima tahun kedepan......
Negara , pemerintah kita..tak pernah hadir dalam setiap kepedihan, kesakitan rakyatnya ,tangisan kelaparan anak-anak kita...Tak ada pemerintah di hati rakyat kecuali kata PEMERAS! 
Karena kita sendirian, maka harus pintar-pintar menyesuaikan diri. Sebagaimana filsafat Jawa, "EMPAN PAPAN".  ada saatnya berhenti,ada saat memacu keras, adakalanya harus memberontak keras. Diam tapi bersiasat kedepan. Dijaman yang serba tak pasti ini hanya akal budi dan hati nurani yang harus kita ikuti....
Yang terakhir tetaplah berjamaah,berkelompok dengan orang-orang seideologi, seiman. bersatu dalam prinsip,mengubah negeri ini menjadi lebih baik, ingat sapu lidi  adalah kumpulan dari kesatuan lidi-lidi. kalo sebatang lidi bukan disebut sapu...tetapi lidi.....
PERUBAHAN ITU DIMULAI DARI DIRI SENDIRI.....seperti kata che Guevara : "If you can change yourself, you can change the world !"
Adzan subuh berkumandang dari mushola samping rumah diskusipun usai  sudah.........bersalam-salaman sambil menyebut nama kawannya.....ada yang nyelethuk "koyok pilem pe-ka ii,nek koyo ngene...yo co" dan salah satu dari kami ada yang menggumamkan lagu yang pernah dilarang itu.....semua tertawa termasuk saya....
*********************************************
Seperti hari hari yang selalu kami lalui, setiap malam sehabis bekerja berkumpul bersama,untuk makan. Berteman televisi crt 14" inch, bertanya jawab apa yang terjadi seharian tadi. Dan tanpa meja makan, lauk terhidang, duduk bersama beralas tikar eva hijaunya pudar. 
Riuh piuh makanpun telah usai , menu makan sederhana telah tuntas, 
Bobor (sayur santan) daun talas muda, kemarin lampau aku petik di pinggir jalan tol Gempol. 
Tempe penyet dan sayur bening  daun kelor membungkam teriakan lapar para cacing-caing perut. 
Doa syukur sudah dibacakan,Rahman dan Yuma. 
Kami pun mengamininya......  
Angin berhembus keras melewati kisi-kisi jendela....
hujan  turun lebat.... 
Kemarau panjang kering menguningkan segala tanaman sudah berakhir,
tanah subur di sawah merekah ,
air hujan menyirami relung relung yang merekah keras!  
kemarau ini sudah berakhir.....@rawont untuk jurnal kecil saya.