Selasa, 15 April 2014

Kembang kopi 2


\

Hari ini yang aku baui di setiap jalanan adalah aroma kembang kopi mekar. Angin dingin dan sekitar desirnya membirukan ujung jemariku disetiap hentakan gas sepeda motor yang di hela. tiba ditikungan itu. Aroma kembang kopi   yang semerbak mengambang di udara malam, mengingatkan aku pada cerita-cerita orang-orang desa tentang dunia orang bajang, dan  para peri.Bulu kudukku meremang. peka menangkap sense itu.
Kembang kopi harumnya menghantui aku.laksana  parfum dewi dewi dari kayangan ,ia melekat tak putus-putus.jalanan menurun berkelok tanpa lampu penerangan jalan.makin tak kentara ketika kabut tebal menyelimutinya. Jarak pandang yang semeter dua, membuat kecepatan sepeda motorku seperti pedati kelebihan beban.
 gelap sekali! apa ada pemadaman listrik? semua gelap seperti dalam gua. ,tatkala tanpa sengaja ban depan masuk dalam lubang aspal.BRAKK begitu kerasnya sehingga speda oleng kekiri  keluar dari aspal....
berhenti sejenak  untuk memeriksa,dari cahaya led ponsel ku tahu bahwa ban depan kempes! kemana harus aku mencari tukang tambal ban di jam segini.ditengah jalannan gelap gulita?berhenti sebentar mengamati medan sekitar. Kulihat di langit  tak ada satupun bintang yang muncul.langit tertutup kabut tebal.kanan kiri adalah hutan kopi dan pinus.
Tak mau berlama disitu sepeda aku tuntun, mesin dan lampu  yang menyala membantu aku menulusuri jalan landai ini. Gas yang kadang aku geramkan dengan keras membantu aku untuk menerangi alam sekitar. tujuanku kali ini adalah menemukan satu rumah untuk meminjam pompa angin tangan,atau  syukur ada tukang tambal ban.
Napas ku terengah-engah.keringat mengalir deras.kalo pas begini , ketika napas satu-satu , batuk terbata-bata  hingga  badanku terguncang-guncang keras , baru aku  menyatakan kapok untuk tidak merokok lagi.  Dan baru aku berjanji pada diriku sendiri untuk berhenti merokok.
dalam kesendirian di malam buta seperti ini. seperti orang kerdil yang melalui hutan belantara gelap gulita. dimasa mudaku yang sok romantis,dulu ya dulu pernah aku mengalami hal yang  lebih buruk dari ini.  untuk  membelikan bunga cressent putih .akupun  memilih untuk  tidak mengisi bensin si pitung untuk serangkum bunga cressent putih. Dari tugu mbluyah rejo  hingga ring road Jombor aku dorong si pitung. Ya seperti malam ini.
Di tengah perjalanan  Aku memutuskan untuk berbalik arah ke MMTC.di belakang  gedung itu  tinggal teman  SMA. karena ingin mempersingkat  jalan aku putuskan untuk menyeberangi  jalan ringroad yang lebar dan berbatas  bahu jalan di tengahnya.Keputusan untuk melakukan ini sebenarnya sangat berbahaya . Tetapi berdasarkan pertimbangan hari sudah larut pasti akan sepi tidak akan ada kendaraan lewat. Dan perkiraan  tersebut salah! dari arah kanan ku truk tangki pengangkut bahan bakar  melaju sangat kencang. bahkan tidak mengurangi kecepatannya sama sekali. Aku yang berada tepat ditengah bahu jalan kebingungan. Secara reflek aku angkat si pitung melewati bahu jalan. TEEEEENNNNNNNN begitu keras klakson angin truk litu. tersentak keras aku.
Pemandangan yang aku lihat adalah si pitung sudah ada di seberang jalan melewati bahu jalan. bahu   jalan   setinggi 35 cm itu! dalam keadaaan yang masih kebingungan karena kejutan tak terduga itu, aku mencoba mengumpulkan  serpihan  ingatan satu per satu. Yang kuingat beberapa detik sebelum truk tangki itu menyambar si pitung  ,dengan dua tanganku aku mengangkat motor keluaran tahun 80 puluh akhir itu begitu mudahnya.seperti mengangkat sebuah  sepeda onthel saJa.
Dan malam itu  aku tuntun BMW (bebek merah warnanya) sambil meyusuri pinggiran ringroad  dengan pikiran bertanya-tanya kok bisa ya? dari langit yang cerah malam itu  bintang-bintang berkelip dengan gembiranya. Bintang pun jatuh tepat didepanku berwarna biru.suara desingannya terdengar dengan keras.menyambar pohon beringin didepanku hingga  daunan nya memercikkan  pijar api  kuning kemerahan seperti mercon air mancur. (masih berlanjut)